Mansur Ga’ga: Taman Api, Dunia Tragis dalam Novel Fantastis

Mansur Ga’ga, M.A.
Dosen Ilmu-Ilmu Sastra

Baik dari segi muatan maupun konstruksinya, Taman Api adalah ekspresi alam bawah sadar yang tersaji dalam wujud dekonstruksi. Sebuah ekspresi yang resah dengan perkembangan dunia postmodern yang kian hari kian terlipat, sekelumit titik nadir dinamika tragedi dan ironi kemanusiaan. Novel ini bagaikan sebuah lampu sorot yang memandikan cahayanya pada sebuah realitas kehidupan dalam masyarakat. Sebuah realitas yang sesungguhnya intim dengan kehidupan kita namun realitas itu tidak sempat terefleksi dalam hati sebagai suatu yang pekat akan nuansa emosional dan disepakati sebagai fakta kehidupan yang logis.
Dalam novel ini, secara gamlang diungkapkan tentang pembela-pembela agama yang seharusnya berhati lembut dan berpikiran luas justru melakukan kekerasan terhadap sesama manusia hanya karena mereka anggap sebagai jenis manusia yang dilaknat Tuhan (waria). Dengan rasa kemanusiaan yang mendalam, tentulah bukan suatu tindakan yang bijak jika ingin menegakkan kebenaran dengan cara yang salah yaitu dengan melakukan kekerasan dan menyakiti jiwa dan raga mahluk ciptaan Tuhan sendiri. Dengan jiwa yang beprikemanusiaan, tentulah masih ada cara-cara yang lebih diridhoi Tuhan untuk menegakkan kebenaran seperti tindakan-tindak preventif dan persuasif yang berkesinambungan.
Dalam novel juga diungkapkan fragmen tentang Polisi Pamong Praja yang diangkat sebagai aparat pemerintah dari masyarakat setempat guna menjaga keamanan dan ketertiban tetapi justru menjadi algojo pembantai masyarakat sendiri. Pentungan yang dibeli dengan uang rakyat digunakan untuk menghantam masyarakat sendiri. Sungguh sesuatu yang tragis dan ironis. Fenomena terparah adalah para dokter yang seharusnya menjadi sosok mulia pemberi kebahagian jasmani dan rohani pada masyarakat justru menjadi sosok manusia yang berideologi kapitalisme baru (new capitalism). Para dokter melakukan komodifikasi (comodification) terhadap jiwa dan raga manusia berkromosom XXY sehingga menjadi komoditas yang dapat menghasilkan uang. Praktek operasi penggantian kelamin dilakukan meski tanpa prosedur yang tepat. Dalam praktek itu juga digunakan obat-obatan yang berbahaya dan mengancam jiwa pasien. Segalanya dilakukan para dokter demi uang dan kepuasan intelektual atas keberhasilan ilmu kedokteran yang super canggih. Sungguh suatu realitas yang terbalik dan mungkin inilah sebuah analogi terbaik terhadap kasus mall praktek di tanah air yang sering terjadi dan tidak terselesaikan dengan tuntas.
Dalam novel ini, fenomena kehidupan waria yang ingin melakukan rekonstruksi kelamin menjadi pokok persoalannya (subject matter). Sebagai suatu fenomena yang diangkat dalam sebuah karya sastra, tentulah picik jika waria dimaknai secara denotatif maupun konotatif saja tapi lebih kepada waria sebagai simbolisasi terhadap berbagai fenomena universal dalam kehidupan masyarakat. Waria sebagai simbol, dapat dimaknai sebagai fenomena yang tidak hanya merefleksikan dunia tragis dan ironis tetapi juga memperlihatkan kehidupan postmodern yang hiper realis. Sebuah kondisi masyakat yang cenderung lebih menyukai silmulacra. Sebuah gejala dimana masyarakat lebih cendrung memberikan nilai lebih pada hal-hal yang palsu. Dalam novel, hal ini tampak pada prilaku waria yang lebih senang tampil sebagai sosok parempuan daripada laki-laki.
Mereka lebih suka berada dalam kondisi yang tidak murni dan alami. Mereka merias wajahnya menyerupai perempuan termasuk pakaiannya, mengimplankan payudaranya dengan suntik silikon agar lebih montok, melakukan suntik hormon estrogen agar lebih mulus dan gemulai, dan bahkan merekonstruksi penisnya menjadi vagina. Dalam konteks yang lebih luas, perilaku seperti ini tentu bukan hanya dilakukan oleh para waria tetapi wanita dan pria normal pun melakukannya. Sebuah rekonstruksi tubuh yang natural menjadi lebih kultural. Seperti menindik, bertato, menjadi cyborg, dan operasi pelastik.
Selain beberapa hal menarik dalam novel ini sebagaimana dipaparkan di atas, hal yang juga sangat menarik dalam novel ini adalah konstruksinya, khususnya pada naratologinya atau sudut pandang penceritaannya. Dari sisi narasinya, novel ini bukanlah novel yang ditulis dengan cara konvensional tapi lebih pada inkonvensional (tidak biasa). Membaca novel ini seolah-olah pembaca sedang menonton TV sambil memegang remote control dan menggonta-ganti siarannya. Dalam teori posmodernisme, gaya seperti ini dikenal sebagai penceritaan dengan metode filmis. Akan tetapi, novel ini lebih dari sekedar filmis yang menceritakan dengan sudut pandang kamera audio visual karena novel ini mampu mengkristalkan TV ke dalam sebuah novel.
Membaca novel ini, membuat pembaca seolah-olah sedang menonton TV sambil memindah-mindahkan siaran TV-nya secara acak. Kadang penonton berada pada stasiun TV yang sedang menyiarkan siaran langsung mengenai suatu peristiwa penting, tiba-tiba pindah ke siaran pendidikan, lalu pindah ke siaran lain yang menyiarkan bermacam-macam berita. Kadang ada berita tentang waria, berita duka, kabar plus-plus, transgender, wabah penyakit HIV/AIDS, rekonstruksi kelamin, implan payudara, demonstrasi, penyerangan, pengganyangan, pembakaran, kriminalitas, pornografi, pornoaksi, penggusuran, teknologi chip computer, peluang bisnis, prostitusi, razia, narkoba. Kadang ada siaran khusus profile selebritis, konser live, dan pencerahan rohani atau siaran religius. Kadang juga ada sesi wawancara dan debat. Dari berbagai siaran itu, di sela-selanya akan muncul iklan-iklan yang kadang berupa iklan baru, iklan yang berulang, bahkan iklan yang sama tapi telah mengalami sedikit perubahan. Hal ini tampak pada adanya beberapa teks yang sama hadir berulang-ulang pada beberapa halaman. Sungguh suatu novel yang fantastis dan sangat menarik untuk diapresiasi lebih jauh.

Sumber: Prolog Novel "Taman Api"

No comments: