Cari Data

Lusy Novitasari: PENYIMPANGAN PERILAKU SEKS WARIA DALAM NOVEL TAMAN API KARYA YONATHAN RAHARDJO

DEIKSIS                        Vol. 10 No.02, Mei-Agustus 2018
p-ISSN: 2085-2274, e-ISSN 2502-227X           hal. 125-133

PENYIMPANGAN PERILAKU SEKS WARIA DALAM NOVEL
TAMAN API KARYA YONATHAN RAHARDJO


Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Jurusan Bahasa dan Seni, STKIP PGRI Ponorogo
Lucydheny77@gmail.com


Abstrak

Salah satu realitas sosial yang dianggap masalah dalam amsyarakat dan menjadi fenomena adalah kederadaan kaum waria. Waria dianggap sebagai perusak moral, masalah sosial, kesehatan, dan patologi sosial. Terdeskriminasinya kaum waria dari masyarakat secara umum menjadikan kehidupan kaum waria tidak banyak diketahu oleh khalayak. Waria dengan segala gaya hidupnya sebagian besar masyarakat menganggap sebagai sebuah penyimpangan. Penelitian ini menitik beratkan pada penyimpangan perilaku seksual waria dalam novel Taman Api karya Yonathan Rahardjo. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif . Data pada penelitian ini berupa hasil telaah dari novel Taman Api Karya Yonathan Rahardjo. Sumber data primer berupa kalimat dalam novel Taman Api karya Yonathan Rahardjo. Sumber data sekunder adalah sumber data kepustakaan yaitu berupa buku, jurnal, artikel ilmiah. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik Content analysis,. Teknik validitas data mempergunakan teknik trianggulasi data atau sumber.Teknik analisis adalah analisis model interaktif (Interactive Model Analysis). Hasil penelitian ini menunjukkan dalam novel Taman Api terdapat (a) seks sesama jenis, (b) dunia prostitusi, dan (c) rekontruksi tubuh. 

Kata kunci: penyimpangan perilaku, seks, waria

SRI UTARI: ANALISIS KEPRIBADIAN TOKOH TRANSEKSUAL PADA NOVEL TAMAN API KARYA YONATHAN RAHARDJO (SEBUAH TINJAUAN PSIKOLOGI SASTRA)

ANALISIS KEPRIBADIAN TOKOH TRANSEKSUAL PADA NOVEL
TAMAN API  KARYA YONATHAN RAHARDJO (SEBUAH TINJAUAN
PSIKOLOGI SASTRA)

Disusun Oleh: SRI UTARI- 13010113120037
FAKULTAS ILMU BUDAYA, UNIVERSITAS DIPONEGORO, SEMARANG ,50257


1. INTISARI

Utari, Sri. 2017. "Analisis Kepribadian Tokoh Transeksual Pada Novel Taman Api Karya Yonathan Rahardjo: Sebuah Tinjauan Psikologi Sastra". Skripsi. Program Strata 1 dalam Ilmu Sastra Indonesia. Semarang. Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro. Pembimbing: Laura Andri R.M., S.S., M. A., Khothibul Umam, S.S., M. Hum.
Objek material penelitian ini ialah novel Taman Api karya Yonathan Rahardjo. Taman Api menceritakan sisi-sisi tersembunyi kehidupan waria yang begitu kompleks terutama fenomena transgender dan transeksual. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka yang berdasarkan pada teori struktur fiksi dan teori psikologi sastra khususnya teori individualitas yang dikemukakan Alfred Adler. Teori struktur fiksi untuk mendeskripsikan unsur pembangun novel sedangkan teori individualitas digunakan untuk mengetahui perkembangan kepribadian tokoh transeksual dalam mengubah jati dirinya.
Hasil analisis struktur terhadap novel Taman Api ialah terdapat empat tokoh yang terdiri dari satu tokoh utama dan tiga tokoh tambahan; terdapat alur maju serta latar tempat, waktu, dan sosial. Hasil analisis berdasarkan teori individualitas menunjukkan apabila tokoh Tari yang awalnya merasa inferior akhirnya berhasil mengkompensasi kekurangannya. Berdasarkan teori individualitas, tokoh Tari dapat dikatakan sebagai seseorang yang sehat secara psikologis karena ia dimotivasi oleh perasaan yang tidak lengkap secara wajar serta tingkat minat sosial yang tinggi. Perkembangan kepribadian tokoh Tari dapat dilihat melalui perjuangan menjadi superior (strirving for superiority), presepsi subyektif (subjective perception), kesatuan kepribadian (unity of personality), minat sosial (social interest), gaya hidup (life style), dan daya kreatif  (creative power of the self).



Kata kunci: novel, psikologi, transeksual, kepribadian, individualitas.





2. Latar Belakang

Transgender merupakan sebuah identitas manusia yang merasa jiwanya berbeda dengan jenis kelaminnya. Menurut Yash (2003: 17) pelaku transgender merupakan individu yang merasa dan berpikir berbeda dari sudut pandang kelamin yang telah ditetapkan, dan masuk dalam gangguan identitas jenis kelamin. Mereka yang merasakan ketidaknyamanan dengan gender kelaminnya akan melakukan operasi pergantian kelamin atau disebut dengan transeksual. Langkah mereka tidak hanya sampai di situ, setelah melakukan sebuah operasi pergantian kelamin maka selanjutnya dilakukan sebuah pergantian identitas yang bisa disebut sebagai transeksual. 
Meski peran gender telah ditetapkan oleh sebuah budaya, penyimpangan identitas gender tetap terjadi. Hal itu terjadi saat individu mengidentifikasikan jenis gender yang berbeda dengan jenis kelamin mereka saat ini. Akibatnya muncul perasaan laki-laki atau perempuan pada fisik yang berbeda, yang membuat dirinya ingin hidup dalam identitas gender yang tidak sesuai jenis kelaminnya, disebut transgender, Selanjutnya mereka yang melakukan pergantian kelamindisebut transeksual. 
Fenomena transgender dan transeksual yang marak terjadi di kehidupan nyata melahirkan karya sastra. Redyanto Noor  menerangkan (2010: 5) bahwa karya sastra merupakan bangunan bahasa yang utuh dan lengkap pada dirinya sendiri, mewujudkan dunia rekaan, mengacu pada dunia nyata, atau realitas dan dapat dipahami berdasarkan kode norma yang melekat pada sistem sastra bahasa, sosial, dan budaya tertentu. Salah satu jenis prosa adalah novel, novel adalah cerita rekaan panjang yang mengetengahkan tokoh-tokoh dan menampakkan serangkaian peristiwa dan latar (setting) secara terstruktur.
Salah satu karya sastra yang membahas seputar transgender dan transeksual adalah novel Taman Api. Taman Api merupakan salah satu novel karya Yonathan Rahardjo yang diterbitkan pada tahun 2011.Yonathan Rahardjo adalah seorang pengarang yang lahir di Bojonegoro pada 17 Januari 1969. Penulis merupakan salah satu sastrawan Indonesia yang memenangkan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2006. Kemenangan novelnya, telah memberi warna baru bagi perkembangan dunia sastra Indonesia. Novel ini mengangkat masalah sosial terutama yang berhubungan dengan transgender dan transseksual. Taman Api karya  Yonathan Rahardjo menggambarkan seorang laki-laki mengubah dirinya menjadi perempuan. Kejanggalan perilaku tersebut belum mendapatkan penerimaan dari masyarakat terkait pertentangan konstruksi gender. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis kepribadian sang tokoh yang berjuang mengubah jati diri yang diceritakan di dalam novel. Taman Api menggambarkan sisi-sisi tersembunyi kehidupan waria khususnya tokoh utama yang demikian kompleks. Kejahatan yang dilakukan oknum-oknum tertentu benar-benar membawa penderitaan bagi kaum waria.
Taman Api ini dibawakan melalui sudut pandang tokoh utamanya, yaitu tokoh tanseksual bernama Tari, salah seorang waria yang ingin menjadi wanita seutuhnya dengan menjalani operasi kelamin. Ia merasa memiliki sifat wanita namun terjebak pada tubuh pria atau dapat dikatakan ia berada pada jiwa yang salah. Kehidupannya berbeda dengan waria-waria kelas bawah yang suka menjajakan diri di pinggir jalan, di sebuah taman. Kehidupan Tari cukup nyaman dan berkecukupan. 
Adanya niatan Tari untuk mengoperasi jenis kelaminnya, justru ia dipertemukan dengan dua orang waria lain yang pada akhirnya ketiga waria ini memiliki keterkaitan satu sama lain. Mereka mendapat stigma negatif di kalangan masyarakat khususnya pemuka agama.  Pada akhirnya, kematian salah satu waria bernama Riris membuat kaum waria marah dan mengungkap adanya praktik illegal yang dilakukan para dokter secara diam-diam. Peristiwa yang terjadi membuat Tari dipercaya untuk menjadi ketua perkumpulan waria guna menegakkan keadilan.
Penelitian ini menggunakan teori struktural dan pendekatan psikologi sastra. Teori struktural digunakan untuk mengetahui unsur pembangun suatu karya sastra, dalam hal ini penulis memfokuskan pada pendalaman kepribadiaan tokoh transgender yaitu Tari. Sementara karya sastra sebagai salah satu media untuk mengungkapkan perasaan manusia yang berbentuk lisan maupun tulisan. Hidup manusia tidak terlepas dari perasaan dan jiwa.  Psikologi sebagai ilmu yang mempelajari manusia dapat dikaitkan dengan karya sastra karena di dalam karya sastra dapat ditemukan berbagai tingkah laku dan konflik yang dialami manusia. 
Taman Api menarik untuk diteliti karena aspek kejiwaan tokoh utamanya yang kental. Salah satu syarat pendekatan psikologi bisa dilakukan adalah apabila karya sastra yang diteliti banyak mengungkapkan aspek kejiwaan manusia. Kepribadian tokoh Tari sering memunculkan perasaan yang seolah-olah jiwanya berada pada tubuh yang salah, ia laki-laki namun punya sifat kewanitaan yang sangat dominan. Tokoh Tari melakukan perjuangan untuk mengubah jati dirinya hingga dapat diterima di kalangan masyarakat. Hal tersebut membuktikan adanya fenomena transgender dan transeksual digambarkan dalam Taman Api yang ceritanya menarik untuk diteliti. Hal menarik lainnya ialah berupa konstruksi pada naratologinya atau sudut pandang penceritaannya. Novel ini memiliki sisi narasi yang ditulis dengan cara tidak biasa yaitu dengan model filmis.  Sepengatahuan penulis novel Taman Api karya Yonahan Rahardjo merupakan objek penelitian yang belum pernah dianalisis dengan teori individualitas yang dikemukakan oleh Alfred Adler. Penulis memilih teori individualitas Alfred Adler sebagai pisau analisia Taman Api karena teori ini dirasa paling tepat untuk menganalisis kejiwaan tokoh Tari.

3. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini dapat penulis rumuskan sebagai berikut:
Bagaimana tokoh dan penokohan, alur dan pengaluran, serta latar  yang terdapat dalam novel Taman Api karya Yonathan Rahardjo?
Bagaimana analisis kepribadian tokoh transeksual yang dikaitkan dengan teori individualitas oleh Afred Adler dalam novel Taman Api karya Yonathan Rahardjo?

Metode dan Teknik Penelitian

Metode menyangkut cara kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan. Objek material yang digunakaan dalam penelitian ini adalah novel Taman Api karya Yonathan Rahardjo. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Penulis menggunakan tiga tahap yang berurutan, yakni: tahap penyediaan data, tahap analisis data, dan tahap penyajian hasil analisis. Penelitian ini menggunakan teknik catat dan simak.


Tahap Analisis Data

Penyediaan data dilakukan dengan studi pustaka. (1) Langkah pertama, penulis menentukan data primer yang akan dijadikan objek penelitian yaitu Taman Api karya Yonathan Rahardjo; (2) membaca secermat dan seteliti mungkin sumber data kemudian mencatat hal-hal yang berhubungan dengan objek yang akan diteliti; (3) mempelajari berbagai literatur sebagai bahan acuan dalam menulis laporan. Data tersebut didapat dari novel Taman Api, dan dari berbagai sumber yang memiliki keterkaitan dengan objek penelitian dan dapat dijadikan pendukung dalam penelitian ini.
Analisis data dilakukan penulis menggunakan metode struktural untuk menganalisis unsur intrinsiknya, kemudian digunakan pendekatan psikologi sastra guna mencari data yang berkaitan dengan tokoh utama. Analisis menggunakan teori kepribadian atau biasa dikenal dengan teori individualitas milik Alfred Adler untuk membahas perjuangan menjadi superior, persepsi subjektif, kesatuan kepribadian, minat sosial, gaya hidup, dan daya kreatif tokoh transeksual.
Penyajian data dilakukan dengan metode deskriptif analisis dalam bentuk deskripsi atau uraian kata-kata yang merupakan hasil dari analisis. Penyajian dari hasil analisis data ini bersifat deskriptif di mana hasil analisis disajikan berupa uraian penjelasan novel Taman Api. Hasil analisis struktural mengungkapkan tokoh dan penokohan, alur dan pengaluran, serta latar sebagai langkah awal, kemudian hasil analisis mengungkapkan kepribadian tokoh transeksual novel Taman Api.


Landasan Teori

1. Teori Struktural Cerita Fiksi 

Teori struktur fiksi dalam penelitian ini sangat berguna karena dapat menjelaskan struktur tokoh dan penokohan, alur dan pengaluran. Sebuah karya sastra terdiri atas berbagai unsur pembangun yang masing-masing saling melengkapi dan tidak dapat berdiri sendiri. Penelitian ini akan memaparkan unsur-unsur intrinsik pada Taman Api dengan menguraikan unsur fiksi, yaitu fakta-fakta cerita yang meliputi tokoh dan penokohan, alur dan pengaluran serta latar. 
a. Tokoh dan Penokohan                
1) Tokoh 
Tokoh menempati posisi yang sangat penting dalam sebuah karya sastra, karena tokoh cerita merupakan pembawa pesan dan amanat yang ingin disampaikan oleh pengarang melalui karyanya. Tokoh-tokoh cerita dalam sebuah fiksi dapat dibedakan kedalam beberapa jenis penamaan berdasarkan dari sudut mana penamaan itu dilakukan. Berdasarkan fungsinya tokoh dibedakan menjadi dua, yaitu tokoh sentral yang mengalami banyak peristiwa dalam cerita dan tokoh bawahan yang mendukung atau membantu tokoh sentral.
Tokoh menurut Nurgiantoro (2013:177), perbedaan tersebut didasarkan pada empat faktor, yaitu faktor perbedaan sudut pandang tokoh, perwatakan tokoh, perkembangan watak tokoh, dan pencerminan terhadap kehidupan. Berdasarkan sudut pandang tokoh dapat dibedakan menjadi dua, yakni:

Tokoh Utama
Tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan penceritaannya dalam novel yang bersangkutan. Ia merupakan tokoh yang paling banyak diceritakan, baik sebagai pelaku kejadian maupun yang dikenai kejadian. Tokoh utama sangat menentukan alur perkembangan alur secara keseluruhan. Ia selalu hadir sebagai pelaku, atau yang dikenal kejadian dan konflik penting yang mempengaruhi perkembangan alur. 
Tokoh Tambahan 
Tokoh tambahan adalah tokoh yang pemuncualannya dalam keseluruhan cerita lebih sedikit, tidak dipentingkan, dan kehadirannya hanya jika ada keterkaitannya dengan tokoh utama, secara langsung ataupun tiding langsung.  
Jones (melalui Nurgiantoro, 2013: 165) mengemukakan bahwa penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita. Masalah penokohan dalam karya tidak semata-mata hanya berhubungan dengan pemilihan jenis dan perwatakan tokoh cerita saja, melainkan juga bagaimana melukiskan kehadiran dan penghadirannya secara tepat sehingga mampu menciptakan dan mendukung tujuan artistik karya yang bersangkutan. 
2) Penokohan
Pada umumnya pengarang memilih cara campuran, mempergunakan teknik langsung dan tidak langsung dalam sebuah karya. Hal itu dirasa lebih menguntungkan karena kelemahan masing-masing teknik dapat ditutup dengan teknik yang lain. Berikut akan dibicarakan kedua teknik tersebut satu persatu. (Nurgiyantoro, 2013: 194).

a) Teknik Ekspositori
Seperti dikemukakan di atas, dalam teknik ekspositori, yang sering juga disebut sebagai teknik analitik, pelukisan tokoh cerita dilakukan dengan memberikan deskripsi, uraian, atau penjelasan secara langsung. Tokoh cerita hadir dan dihadirkan oleh pengarang ke hadapan pembaca secara tidak berbelit-belit, melainkan begitu saja dan langsung disertai deskripsi kediriannya, yang mungkin berupa sikap, sifat, watak, tingkah laku, atau bahkan juga ciri fisiknya. Bahkan sering dijumpai dalam suatu karya fiksi, belum lagi kita pembaca akrap berkenalan dengan tokoh-tokoh cerita itu, informasi kedirian tokoh tersebut justru telah lebih dahulu kita terima secara lengkap.  b) Teknik Dramatik
Penampilan tokoh cerita dalam teknik dramatik, artinya mirip dengan yang ditampilkan pada drama, dilakukan secara tak langsung. Artinya, pengarang tidak mendeskripsikan secara eksplisit sifat dan sikap serta tingkah laku tokoh. Penampilan tokoh secara dramatik dapat dilakukan dengan sejumlah teknik. Berbagai teknik yang dimaksud sebagian diantaranya teknik cakapan, teknik tingkah laku, teknik pikiran dan perasaan, teknik arus kesadaran, dan teknik pelukisan fisik. 
b. Alur dan Pengaluran
Stanton (2007: 26) mengemukakan bahwa alur merupakan rangkaian peristiwaperistiwa dalam sebuah cerita. Istilah alur merupakan peristiwa yang terhubung secara kausal saja. Peristiwa kausal merupakan peristiwa yang menyebabkan atau menjadi dampak dari berbagai peristiwa lain dan tidak dapat diabaikan karena akan berpengaruh pada keseluruhan karya. Peristiwa kausal tidak terbatas pada hal-hal fisik saja seperti ujaran atau tindakan, tetapi juga mencakup perubahan sikap karakter, kiasan-kiasan pandangannya, keputusan-keputusannya, dan segala yang menjadi variable pengubah dalam dirinya.
 Plot sebuah karya fiksi merupakan struktur peristiwa-peristiwa, yaitu sebagaimana yang terlihat dalam pengurutan dan penyajian berbagai peristiwa tersebut untuk mencapai efek emosional dan efek artistik tertentu (Abrams dalam Nurgiyantoro, 2013:113). Alur terdiri dari tiga unsur, yaitu peristiwa, konflik dan klimaks. Plot atau biasa disebut alur merupakan jalan cerita atau rangkaian beberapa kejadian atau peristiwa dalam cerita sebuah karya sastra, baik yang terjadi secara berurutan yang sesuai dengan urutan waktu maupun peristiwa- peristiwa yang sudah terjadi. Beberapa peristiwa ini dituangkan oleh pengarang dalam sebuah cerita sesuai dengan urutan waktu kejadiannya atau bahkan dipaparkan secara kilas balik (flashback) sesuai dengan kebutuhan, sehingga isi cerita menjadi satu kesatuan yang dapat dimengerti dan menarik bagi pembacanya.  c. Latar
Latar adalah unsur fiksi yang berupa tempat, waktu dan suasana dalam cerita. Menurut Nurgiyantoro (2013:303), latar memberikan pijakan cerita secara konkret dan jelas. Hal ini penting untuk memberikan kesan realistis kepada pembaca, menciptakan suasana tertentu yang seolah-olah sungguh-sungguh ada dan terjadi. Unsur-unsur latar meliputi latar tempat, latar waktu, dan latar sosial. 
Latar tempat menyaran pada lokasi tertentu atau lebih sering disebut latar fisik. Latar fisik dapat ditunjukkan dengan cara yang bremacam-macam, tergantung kreativitas pengarang. Ada pengarang yang melukiskan secara rinci, ada pula yang sekedar menunjukkan dalam bagian cerita. Unsur tempat yang digunakan mungkin berupa tempat dengan nama-nama tertentu, inisial tertentu, bahkan mungkin lokasi tertentu tanpa nama yang jelas. Penggunaan latar dengan nama-nama tertentu haruslah mencerminkan keadaan geografis tempat yang bersangkutan. Sebab, masing-masing tempat memiliki karakteristik tertentu yang dapat membedakan dengan tempat yang lain. Untuk mendeskripsikan suatu tempat secara meyakinkan, pengarang harus menguasai situasi gegrafis lokasi yang bersangkutan lengkap dengan karakteristik dan sifat khasnya. Akan tetapi, tidak semua latar ditunjukkan dengan teliti dan rinci. Keberhasilan latar tempat lebih ditentukan oleh ketepatan deskripsi, fungsi, dan keterpaduan dengan unsur latar yang lain sehingga bersifat saling mengisi (Nurgiyantoro, 2013:227-230). 
  Latar waktu, latar waktu berhubungan dengan "kapan" terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam karya fiksi, biasanya dihubungkan dengan waktu yang faktual, waktu yang ada kaitannya dengan peristiwa masa lalu. Menurut Gennete, masalah waktu dalam karya fiksi memiliki makna ganda. Di satu pihak, menyaran pada waktu penceritaan dan atau waktu penulisan cerita, di pihak yang lain merujuk pada waktu dan urutan waktu yang terjadi dan dikisahkan dalam cerita. Segala sesuatu yang berhubungan dengan waktu, langsung atau tidak langsung, harus sesuai dengan sejarah yang menjadi acuannya. Latar waktu harus dikaitkan dengan latar tempat. Sebab, keadaan suatu tempat yang diceritakan harus mengacu pada waktu tertentu karena tempat ini akan berubah sejalan dengan perubahan waktu (Nurgiyantoro, 2013:230-233).
 Latar sosial, latar sosial menyaran pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat disuatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Tata cara kehidupan sosial masyarakat tertentu yang mencakup berbagai masalah dalam lingkup yang cukup kompleks. Latar sosial dapat berupa kebiasaan hidup, cara berpikir, bersikap, dan lain-lain. Latar sosial dapat menggambarkan suasana kedaerahan melalui kehidupan sosial masyarakat (Nurgiyantoro, 2013:233-234).

2. Teori Psikologi Sastra

Penelitian psikologi sastra memiliki peranan penting dalam pemahaman sastra karena adanya beberapa kelebihan seperti : pertama, pentingnya psikologi sastra untuk mengkaji lebih mendalam aspek perwatakan; kedua, dengan pendekatan ini dapat memberi umpan-balik kepada peneliti tentang masalah perwatakan yang dikembangkan; dan terkahir, penelitian semacam ini sangat membantu untuk menganalisis karya sastra yang kental dengan masalah-masalah psikologis (Endaswara, 2008:12). 
Terkait dengan psikologi, terutama dengan psikologi kepribadian, sastra menjadi suatu bahan telaah yang menarik karena sastra bukan sekedar telaah teks yang menjemukan tetapi menjadi bahan kajian yang melibatkan perwatakan/kepribadian para tokoh rekaan, pengarang karya sastra, dan pembaca.
(Minderop, 2010:3).
a. Teori Individualitas Alfred Adler
Menurut Adler manusia lahir dengan tubuh yang lemah dan inferior, suatu kondisi yang mengarah pada perasaan inferior sehingga mengakibatkan ketergantungan pada orang lain. Oleh karena itu, perasaan menyatu dengan orang lain (minat sosial) sudah menjadi sifat manusia dan merupakan standar akhir untuk kesehatan psikologis (Feist, 2012: 81).
Manusia merupakan makhluk sosial, mereka menghubungkan dirinya dengan orang lain, terlibat dalam hubungan-hubungan kemasyarakatan. Adler memandang bahwa kesadaran merupakan pusat dari kepribadian, setiap manusia memiliki nafsu atau daya motivasi yang bermain di balik segala bentuk perilaku dan pengalaman manusia. Daya motivasi atau selanjutnya disebut dorongan ke arah kesempurnaan (superioritas) merupakan hasrat yang digunakan manusia untuk memenuhi segala keinginan dan potensi yang ada di dalam diri seseorang. Hasrat tersebut yang mendorong seseorang untuk semakin dekat dengan apa yang diidealkan (Zaviera, 2016: 45).

Teori psikologi individual Adler yang digunakan meliputi; perjuangan menjadi superior (striving for success superiority), persepsi subyektif (subjective perception), kesatuan kepribadian (unity of personality), minat sosial (social interest), gaya hidup (life style), dan daya kreatif  (creative power of the self). Teori tersebut memiliki hubungan erat untuk mengulas lebih lengkap keadaan psikologi kepribadian tokoh transgender bernama Tari dalam novel Taman Api karya Yonathan Rahardjo. Peneliti ingin mengungkap perkembangan kepribadian tokoh transgender dalam usahanya untuk menjadi wanita seutuhnya sehingga menimbulkan rasa  kepercayaan diri yang lebih dalam dirinya. 
Teori Adler dapat dipahami lewat pengertian-pengertian pokok yang dipergunakannya untuk membahas kepribadian. Adapun pengertian-pengertian pokok dalam teori Adler dapat dikemukakan seperti berikut:
Perjuangan menjadi superior (Striving for Succes or superiority) Prinsip pertama dari teori Adlerian adalah kekuatan dinamis di balik perilaku manusia ialah berjuang untuk meraih keberhasilan atau superioritas. Adler mereduksi semua motivasi menjadi satu dorongan tunggal, berjuang untuk meraih keberhasilan atau superioritas. Psikologi individual mengajarkan bahwa setiap orang memulai hidup dengan kelemahan fisik yang memunculkan perasaan inferior, perasaan yang memotivasi seseorang untuk berjuang demi meraih superioritas atau keberhasilan, apa yang ia inginkan dapat terwujud. 
Adler berpendapat bahwa perasaan rendah diri (inferiority) bukan merupakan hal yang abnormal. Dibawah keadaan normal, perasaan rendah diri dapat merupakan kekuatan penggerak yang sangat besar. Dengan kata lain jika manusia ditekan oleh keinginan untuk mengatasi rendah diri dengan keinginan menjadi superior. Usaha tersebut dapat dikatakan kompensasi. Jika seseorang mengalami gejala gangguan psikis rasa rendah diri, ia akan mengalami kompleks rendah diri yang kemudian akan menimbulkan over kompensasi sehingga dapat diatasi dengan kompleks superior.


Persepsi Subjektif (Subjective Perception)
Prinsip Adler yang kedua adalah persepsi subjektif seseorang membentuk perilaku dan kepribadian mereka. Manusia berjuang meraih keunggulan atau keberhasilan untuk mengganti perasaan inferior. Akan tetapi, sikap juang mereka tidak ditentukan oleh kenyataan namun oleh persepsi subjektif mereka akan kenyataan, yaitu oleh fiksi mereka atau harapan masa depan.
Fiksi kita yang paling penting adalah tujuan meraih superioritas atau keberhasilan, tujuan yang kita ciptakan di awal kehidupan dan mungkin tidak dipahami dengan jelas. Tujuan akhir yang fiksional dan subjektif ini menuntun gaya hidup kita dan menyatukan kepribadian kita. Fiksionalisme atau pandangan teleologis merupakan perilaku dalam pengertian tujuan atau sasaran akhirnya. Ini berlawanan dengan kausalitas, yang melihat perilaku sebagai hal yang tumbuh dari sebab spesifik. Telelogi biasanya memperhatikan tujuan masa depan, sedangkan kausalitas berhubungan dengan pengalaman masa lalu yang menghasilkan pengaruh di masa sekarang. 
C. Kesatuan Kepribadian (Unity of Personality)
Psikologi individual menekankan pada satu sasaran dan berfungsi untuk mecapai satu tujuan. Adler mengenali beberapa cara di mana keseluruhan diri manusia berfungsi dengan kesatuan dan self konsistency. Cara pertama disebutnya sebagai bahasa organ. 
Adler mengemukakan ide tentang inferioritas organ tubuh dan kompensasi yang berlebihan, bahwa yang menentukan letak gangguan tertentu adalah inferioritas dasar pada bagian itu, suatu inferioritas yang timbul karena hereditas maupun karena suatu kelainan dalam perkembangan. Selanjutnya ia mengamati bahwa orang yang mempunyai organ yang cacat seringkali berusaha mengkompensasikan kelemahan itu.
Contoh kedua dari kepribadian yang menyatu adalah keserasian antara tindakan sadar dan tindakan tak sadar. Adler mendefinisikan ketidaksadaran sebagai bagian dari tujuan yang tidak dirumuskan dengan jelas atau tidak dipahami secara utuh oleh seseorang. 
D. Minat Sosial (Social Interest)
Prinsip Adler yang keempat adalah nilai dari semua aktivitas manusia harus dilihat dari sudut pandang minat sosial. Minat sosial (social interest) adalah terjemahan dari bahasa Jerman Gemeinshaftsgefuhl yang artinya perasaan sosial atau perasaan berkomunitas. Kira-kira maknanya adalah perasaan menjadi satu dengan umat manusia, menyatakan secara tidak langsung keanggotaan dalam komunitas sosial di seluruh dunia. 

E. Gaya hidup (Life Style )
Prinsip Adler yang kelima adalah struktur kepribadian yang self concistent berkembang menjadi gaya hidup seseorang. Gaya hidup (style of life) adalah instilah yang digunakan adler untuk menunjukkan selera hidup seseorang. Gaya hidup mencakup tujuan seseorang, konsep diri, perasaan terhadap orang lain, dan sikap terhadap dunia. Gaya hidup adalah hasil interaksi antara keturunan atau bawaan lahir, lingkungan, dan daya kreatif yang dimiliki seseorang. 
Manusia dengan gaya hidup yang sehat dan bermanfaat secara sosial menunjukkan minat sosial mereka melalui tindakan. Adler percaya bahwa manusia dengan gaya hidup yang bermanfaat secara sosial memperlihatkan bentuk kemanusiaan yang paling tinggi dalam proses evaluasi dan bentuk ini sangat mungkin memenuhi dunia di masa depan. F. Daya Kreatif (Creative Power of the Self).
Prinsip terakhir dari teori Adlerian adalah gaya hidup dibentuk oleh daya kreatif yang ada pada diri manusia. Setiap orang memiliki kebebasan untuk menciptakan gaya hidupnya sendiri hingga pada akhirnya bertanggung jawab akan dirinya sendiri dan bagaimana akan mereka berperilaku. Daya kreatif yang mereka miliki membuat mereka mengendalikan kehidupan mereka sendiri, bertanggung jawab akan tujuan akhir mereka, menentukan cara yang mereka pakai untuk meraih tujuan tersebut, dan berperan dalam membentuk minat sosial mereka. 


7. Kesimpulan

Novel Taman Api merupakan salah satu novel karya Yonathan Rahardjo yang membahas mengenai kehidupan transgender dan transeksual. Cerita dalam novel ini adalah salah satu cara penulis dalam menyampaikan sisi-sisi tersembunyi kehidupan kaum waria yang mendapat stigma negatif di kalangan masyarakat. Taman Api menceritakan tokoh transeksual, seorang waria bernama Tari yang ingin mewujudkan mimpinya untuk mengubah jati diri menjadi wanita seutuhnya. Ia melakukan berbagai cara demi cita-citanya terwujud.
Hasil dari analisis struktur novel Taman Api terdapat tokoh yang terbagi dalam satu tokoh utama dan tiga tokoh tambahan. Tokoh utama bernama Tari merupakan tokoh transeksual yang menjadi pusat penceritaan dan berkembang dalam perkembangan alur, sedangkan tokoh-tokoh tambahan yang berhubungan dengan Tari adalah: Dokter Ranto, Priyatna, dan Riris yang menjadi pendukung dalam cerita.
Novel Taman Api menggunakan teknik penokohan ekspositori dan teknik dramatik yang dilukiskan melalui teknik cakapan, teknik tingkah laku, teknik pikiran dan perasaan, teknik arus kesadaran, dan teknik pelukisan fisik. Alur dari Novel Taman Api memiliki peristiwa-peristiwa yang ditampilkan terkesan sendirisendiri sebagai satuan episode cerita, sedangkan dari segi pengaluran  Novel Taman Api menggunakan alur manju (progresif), sekalipun pada tahap tertentu peristiwa ditarik ke belakang (untuk mengenang peristiwa masa lalu) tetapi alur tetap maju (progresif). Terdapat latar tempat, waktu dan sosial.
Teori psikologi sastra yang digunakan untuk menganalisis novel Taman Api ialah teori individualitas yang dikemukakan oleh Alfred adler. Berdasarkan analisis kepribadian, terlihat jika tokoh transeksual bernama Tari memiliki pokokpokok teori psikologi individu berupa perjuangan menjadi superior (strirving for superiority), persepsi subjektif (subjective perception), kesatuan kepribadian (unity of personality), minat sosial (social interest), gaya hidup (life style), dan daya kreatif  (creative power of the self).
 Analisis berdasarkan teori individualitas menunjukkan bahwa tokoh Tari yang awalnya merasa inferior akhirnya berhasil mengkompensasi kekurangannya. Terlihat jika tokoh Tari memiliki daya juang bawaan sejak lahir. Kelemahan pada tubuhnya berupa kelainan kromosom membuatnya memiliki sifat kewanitaan yang lebih dominan padahal ia dilahirkan sebagai seorang lelaki. Hal tersebut membuatnya mengkompensasi kekurangan yang ia miliki dengan dibantu dari dorongan kemasyarakatan. Berdasarkan teori individualitas, tokoh Tari dapat dikatakan sebagai seseorang yang sehat secara psikologis karena ia dimotivasi oleh perasaan yang tidak lengkap secara wajar serta tingkat minat sosial yang tinggi. Tokoh Tari berjuang untuk meraih keinginannya atau cita-cita mengubah jati diri dengan menjadi wanita seutuhnya, namun tetap membela kaum waria, sehingga tujuan akhir yang tokoh Tari dapatkan tampak secara jelas. Keinginan mengubah jati diri menjadi wanita seutuhnya menghilangkan penyimpangan identitas yang menjadi perdebatan di masyarakat. Berdasarkan teori tersebut, menunjukkan adanya perkembangan yang menyeluruh dari potensi Tari secara sosial dan kemampuan untuk membentuk hubungan yang hangat dan peduli terhadap orang lain. 
Pesan yang dapat diambil dari novel ini ialah hendaknya kita tidak menghakimi manusia lain, dalam hal ini adalah waria. Setiap manusia berhak menentukan pilihan hidupnya, apapun pilhan mereka hanya Tuhan yang berhak untuk menghakimi. Novel ini juga menunjukkan apabila waria masih mendapat perlakuan yang tidak adil, sementara bangsa Indonesia memiliki landasan hukum yang di dalamnya menyampaikan bahwa setiap manusia berhak mendapatkan keadilan. Novel Taman Api menyuguhkan kepada pembaca mengenai kehidupan waria yang selama ini dianggap sebelah mata dan mendapat stigma negatif dari masyarakat. Jarang yang mengisahkan bagaimana sesungguhnya ketegangan perubahan orientasi seksual dan ketegangan mengenai perubahan tubuh dan fungsinya. Novel ini menyampaikan kepada pembaca untuk bengkit bersamasama dan berjuang membebaskan diri dari sistem pemerintah yang tidak kasat mata, dengan solusi untuk mendirikan demokrasi yang benar-benar pro rakyat. 









DAFTAR PUSTAKA
. 
Adler, Alfred. 1956. The Individual Psychology of Alfred Adler. New York:   Harper Perennial. 

Endraswara, Suwardi. 2008. Metode Penelitian Sastra. Yogyakarta: MedPress.

Feist, Gregory Jess. 2012. Theories of Personality (Teori Kepribadian). Jakarta: Salemba Humanika. 

Minderop, Albertine. 2010. Psikologi Sastra. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Noor, Redyanto. 2010. Pengantar Pengkajian Sastra. Semarang: Fasindo.
Nurgiyantoro, Burhan. 2013. Teori Pengkajian Fiksi. Yogykarta: Gadjah Mada Press.

Pradopo, Rachmad Djoko. 2003. Kritik Sastra Indonesia Modern. Yogyakarta: Gama Media.

Prasabta, Prima. 2013. "Analisis Unsur Intrinsik Novel Taman Api Karya
Yonathan Rahardjo". Fakultas Ilmu Budaya. Universitas Jendral Soedirman Purwokerto.

Rahardjo, Yonathan. 2011. Taman Api. Tangerang: Pustaka Alvabet.

Ratna, Khuta Nyoman. 2011. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Santrock, J. W. 2007. Life span development (perkembangan masa hidup). Jakarta: Penerbit Elangga.

Stanton, Robert. 2007. Teori Fiksi Robert Stanton. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Yash. 2003. Transeksual: Sebuah Studi Kasus Perkembangan Transeksual Perempuan ke Laki- Laki. Semarang: AINI.

Zaimar, Okke K.S. 1990. Menelusuri Makna Ziarah Karya Iwan
Simatupang. Jakarta: Internusa.

Zaviera, Ferdinand. 2016. Teori Kepribadian Sigmund Freud. Yogyakarta: Ar-ruzz Media.



Everhard Markiano Solissa: HABITUS DAN ARENA DALAM NOVEL TAMAN API KARYA YONATHAN RAHARDJO


Lingua Franca: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya
P-ISSN: 2302-5778 Vol 6 No. 1 Februari 2018 Hal 1 – 11  E-ISSN: 2580-3225 Vol 2 No. 1 Februari 2018 Hal 1 – 11

HABITUS DAN ARENA DALAM NOVEL TAMAN API
KARYA YONATHAN RAHARDJO

     Everhard Markiano Solissa     
Universitas Pattimura
Mahasiswa S-3 Pendidikan Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Surabaya
1TUeversolissa@yahoo.comU1T
      

ABSTRAK  Karya sastra lahir dari latar belakang dan dorongan dasar manusia untuk mengungkapkan eksisitensi dirinya. Karya sastra lahir bukan dari ruang kosong melompong, tetapi dari sebuah interaksi dengan realitas kehidupan manusia. Salah satu realitas dalam kehidupan dunia kontemporer sekarang ini adalah  adanya krisis identitas dan subjektivitas. Tujuan penelitian ini adalah menemukan dan mendeskripsikan habitus dan arena dalam novel Taman Api karya Yonathan Rahrdjo. Data dikumpulkan dengan teknik pustaka. Dengan menggunakan teori medan sastra Pierre Bourdieu, ditemukan bahwa (1) novel Taman Api menggambarkan bentuk habitus atau cara pandang seseorang dalam menentukan tindakan. Habitus agen terus bergerak dari waktu ke waktu. Pergerakan itu diakibatkan oleh pengalaman, didikan, atau bahkan pergaulan; (2) arena dalam novel Taman Api berupa arena kedokteran yang dianggap arena orang berkelas. Namun demikian, dalam arena ini agen-agenya tidak mencerminkan akhlak yang baik. Arena berikutnya adalah arena bisnis di mana setiap agen berupaya menjalankan fungsi dengan sebaik-baiknya agar jaringan yang dibangun tetap bertahan untuk kepentingan bersama yaitu saling menguntungkan. Arena yang terakhir adalah arena waria. Setiap agen dalam arena ini dianggap perusak tatanan moralitas, dan sering menjadi sasaran kekerasan penguasa.

Kata Kunci: karya sastra, medan sastra, agen, habitus, arena

ABSTRACT  Literary works are born of the background and the basic human impetus to express their existence. They are not born of an empty space, but of an interaction with the reality of human life. One of the contemporary world life realities today is the existence of an identity and subjectivity crisis. The objectives of this research are to find and to describe the habitus and arena in the novel Taman Api by Yonantha Rahardjo. The data are collected by the library techniques. By using literary fields theory of Pierre Bourdieu, some issues are found. Those are (1) the novel Taman Api depicts the form of habitus or someone’s perspective in determining the action. Habitus of the agent keeps moving from time to time. The movement is caused by experiences, education, or even intercommunication; (2) the arena in the novel Taman Api is in the form of medic which is considered as the arena of the elite. Nevertheless, in this arena, the agents do not reflect good morals.
Another arena is business where each agent makes serious efforts to perform his function as well as possible in order that networks remain for the mutual benefit. The last arena is a transvestite. Each agent, in this arena, is considered as a destroyer of the order of morality and is often subjected to the violence of the ruler.

Keywords: literary works, literary fields, agent, habitus, arena

PENDAHULUAN  Karya sastra lahir dari pengekspresian endapan pengalaman yang telah ada dalam jiwa pengarang secara mendalam melalui proses imajinasi (Nurgiyantoro, 2010:57). Karya sastra lahir dari latar belakang dan dorongan dasar manusia untuk mengungkapkan eksisitensi dirinya. Sebuah karya sastra dipersepsikan sebagai ungkapan realitas kehidupan dan konteks penyajiannya disusun secara terstruktur, menarik, serta menggunakan media bahasa berupa teks.
Salah satu realitas dalam kehidupan dunia kontemporer sekarang ini adalah  adanya krisis identitas dan subjektivitas. Krisis ditandai dengan upaya pencarian identitas berupa operasi wajah, pembuatan tato, pemakaian anting, rambut di-rebounding, bahkan sampai pada operasi kelamin.
Hal-hal tersebut menjadi objek yang menarik untuk diperbincangkan bukan saja dalam dialog-dialog, seminar-seminar, tetapi juga dalam karya sastra. Salah satunya adalah masalah transgender. 0TTransgender0T adalah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan orang yang melakukan, merasa, berpikir atau terlihat berbeda dari jenis kelamin yang sejak lahir mereka dapatkan, atau jelasnya bisa dikatakan sebagai lelaki yang mengubah dirinya menjadi perempuan atau sebaliknya. 
Novel Taman Api yang ditulis oleh Yonathan Rahardjo adalah salah satu novel yang mengangkat sisi lain kaum transgender (kaum waria). Novel ini merupakan novel kedua yang ditulis oleh Yonathan Rahadjo. Ia adalah seorang dokter hewan yang begitu tertarik untuk menceritakan hal-hal yang tidak biasa dalam masyarakat. Yonathan Rahardjo adalah salah satu pemenang sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta 2006. Ia adalah salah satu penulis Indonesia yang terpilih mengikuti Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) tahun 2009 di Bali.  
Kisah yang ditulis oleh Yonathan Rahardjo dalam novel Taman Api akan dikaji dengan teori medan sastra. Teori medan sastra memandang masyarakat sebagai penghuni blok-blok atau wilayahwilayah yang dibuat berdasarkan persamaan pola pikir, presepsi dan pengalaman. Dalam teori ini setiap individu akan ditempatkan atau memiliki wilayah masing-masing sesuai dengan kemampuannya dalam berpikir dan beradaptasi.
Ada dua macam konsep yang ditawarkan oleh Pierre Bourdiue dalam teori ini yaitu habitus dan arena, konsep yang saling mendukung dan saling berkaitan. Dapat dijelaskan dengan singkat bahwa  jika seseorang memiliki pola pikir atau pandangan yang mengstigma kaum waria sebagai pendosa karena Tuhan hanya menciptakan laki-laki dan perempuan, maka orang tersebut dapat hidup dalam arena atau wilayah kaum agamis yang dominan. 
Menurut Fashri (2014:99), habitus dapat dirumuskan sebagai sebuah struktur sosial yang dibatinkan yang diwujudkan. Atau dengan kata lain habitus adalah hasil pengalaman pribadi seseorang tentang nilai-nilai sosial, terstuktur dan berlangsung lama, mengendap dalam pikiran dan menjadi sebuah cara pandang atau pola pikir.
Habitus seseorang begitu kuat, sampai mempengaruhi perkembangan pemikirannya. Habitus yang sudah begitu kuat tertanam serta mengendap menjadi perilaku fisik disebutnya sebagai Hexis. Hexis sendiri dapat mempengaruhi pola pemikiran seseorang sehingga dapat membuatnya menjadi pemikir yang kurang kritis karena menilai sesuatu berdasarkan pengalaman dan pola pandangnya saja (Wattimena 2012:2)
Bordieu memaparkan bahwa habitus seseorang dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain:
1) Kapital/Modal
     Kapital adalah modal yang memungkinkan kita untuk mendapatkan kesempatan-kesempatan di dalam hidup. Ada banyak jenis kapital, seperti kapital intelektual (pendidikan), kapital ekonomi (uang), dan kapital budaya (latar belakang dan jaringan). Kapital bisa diperoleh, jika orang memiliki habitus yang tepat dalam hidupnya.
2) Kelas
Bourdieu (2015:ix) mengemukaan bahwa sistem dominasi dalam sebuah arena telah mengklasifikasikan agen dalam kelas-kelas tertentu. Setiap kelas memiliki sikap, selera, kebiasaan, perilaku atau bahkan modal yang berbeda. 
Bourdieu membedakan kelas menjadi tiga. Pembedaan ini sekali lagi didasarkan pada faktor pemilihan modal tadi. Pertama, kelas dominan (Bourdieu 2015:216). Kelas dominan adalah pemilikan modal yang cukup besar. Kedua, kelas borjouis kecil (Bourdieu, 2015:217), yaitu mereka memiliki keinginan untuk menaiki tangga sosial, akan tetapi mereka menempati kelas menengah dalam struktur masyarakat. Ketiga, kelas popular/terdominasi (Bourdieu, 2015:216). Kelas ini merupakan kelas yang hampir tidak memiliki modal, baik modal ekonomi, modal budaya maupun modal simbolik.
3) Dominasi Simbolik
Dominasi simbolik adalah penindasan dengan menggunakan simbol-simbol. Penindasan ini tidak dirasakan sebagai penindasan, tetapi sebagai sesuatu yang secara normal perlu dilakukan. Artinya, penindasan tersebut telah mendapatkan persetujuan dari pihak yang ditindas itu sendiri (Bourdieu dalam Wattimena, 2012:7). Menurut Bourdieu, kekerasan berada dalam lingkup kekuasaan. 
      
4)  Pembedaan
Bourdieu (Wattimena, 2012:5) merumuskan konsep pembedaan (distinction) sebagai tindakan membedakan diri yang dilakukan oleh seseorang untuk menunjukkan kelasnya dalam masyarakat. Biasanya, pembedaan dilakukan oleh kelas menengah ke atas untuk menunjukkan statusnya yang khas dibandingkan dengan kelas ekonomi yang lebih rendah. 
5)  Perubahan Sosial dan Kebebasan
Perubahan sosial bisa dilakukan, jika seseorang memiliki kapital yang mendukung serta dapat memilih arena yang tepat untuk menempatkan dirinya agar orang tersebut mendapatkan habitus yang baik pula (Wattimena, 2012:8). Perubahan sosial hanya mungkin, jika manusia bukan merupakan “budak” dari sistem sosial yang mengitarinya. Dengan kata lain, perubahan sosial hanya mungkin, jika ada kebebasan. Bagi Bourdieu, kebebasan adalah suatu bentuk improvisasi yang menghasilkan variasi. Artinya, kebebasan adalah perubahan yang dapat menciptakan sesuatu.

Bourdieu (2015:213) mendefinisikan  arena sebagai sebuah semesta sosial terpisah yang memiliki hukum-hukum keberfungsiannya sendiri. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ada berbagai macam arena seperti pendidikan, arena bisnis, arena seniman, dan arena politik. Arena pendidikan memiliki aturannya sendiri. 
Fashri (2014:106) menjelaskan bahwa arena adalah ruang yang di dalamnya terdapat upaya perjuangan untuk memperebutkan sumber daya (modal) dan juga untuk memperoleh akses tertentu yang dekat dekan kekuasaan. Dengan demikian, dalam arena setiap individu atau kelompok digiring untuk merancang strategi dan menggunakan strategi itu untuk meraih posisi. Persaingan menjadi hal yang lumrah, karena setiap strategi telah memperhitungkan hal tersebut. Persaingan yang sehat akan menghasilkan sesuatu yang baik, namun persaingan yang tidak sehat akan menimbulkan konflik.
 Konsep arena ikut mendukung habitus seseorang (Wattimena, 2012:3). Artinya, arena dan habitus sangat terikat erat. Untuk bisa berhasil dalam salah satu arena hidup, orang perlu mempunyai habitus yang tepat untuk arena itu. Jika ia tidak memiliki habitus yang tepat untuk satu arena, maka ia, kemungkinan besar, akan gagal dalam arena yang telah ia pilih tersebut.

METODE   Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif, yaitu penelitian yang mengungkap gejala atau fenomena secara menyeluruh dan kontekstual tentang topik yang diteliti (Moleong, 2008:6). Penelitian ini bersifat deskriptif yaitu memberikan gambaran secara jelas tentang habitus dan arena dalam novel Taman Api karya Yonathan Rahardjo.
Data diperoleh melalui teknik pustaka, yaitu dengan mempergunakan sumber-sumber tertulis untuk memperoleh data.
Dalam teknik pustaka, peneliti sebagai instrumen kunci melakukan pembacaan dan pencatatan secara cermat, terarah, dan teliti terhadap sumber data yakni novel Taman Api. Pada saat melakukan pembacaan, peneliti sekaligus mencatat bagian-bagian novel, dalam hal ini kata dan kalimat yang berkaitan dengan tujuan penelitian. Pembacaan dilakukan secara berulang-ulang sehingga data yang dikumpulkan lebih akurat.
Analisis data penelitian ini menggunakan model spiral yang dikemukakan oleh Creswell (2014:254). Dengan demikian, proses mengidentifikasi agen, mengidentifikasi watak tokoh, mengidentifikasi perbuatan/tindakan agen, dan mengidentifikasi habitus dan arena dilakukan dengan cermat dan berulang-ulang untuk memperoleh hasil yang memadai.

PEMBAHASAN Habitus dalam Novel Taman Api
Tari adalah seorang tokoh pria yang diceritakan memiliki kelainan seksual sejak kecil yang membuatnya berbeda dari kaumnya saat itu. Dia kemudian bertumbuh dewasa dengan kelainan yang membuatnya sulit beradaptasi dengan lingkungannya. Penerimaan yang tidak begitu menyenangkan dari masyarakat sekitar membuatnya menjadi semakin yakin bahwa dia adalah sosok wanita yang terkungkung dalam tubuh seorang pria. Dia tidak mempedulikan masyarakat sekitarnya bahkan dia merasa nyaman hidup sebagai pria berperilaku ganda. Karena adanya dorongan dari dalam dirinya hingga dia menetapkan pilihannya untuk benar-benar meninggalkan jati dirinya sebagai seorang pria dan mengikuti kata hatinya yang cenderung menerima kenyataan sosoknya sebagai wanita. Nona Tari kemudian mengambil pilihan untuk mengubah bentuk fisiknya menjadi seorang wanita tulen dengan sedikit perubahan pada tubuhnya. 
Pemikiran yang terkonsep dengan baik ini membuatnya menentukan pilihan hidup yang sulit ketika dia memasuki usia dewasa. Bagi sebagian orang, menentukan pilihan dalam hidup adalah sebuah pekerjaan yang tidak mudah apalagi harus menentukan pilihan-pilihan yang semuanya adalah baik adanya. Begitu pula dengan tokoh Nona Tari. Dia harus mengambil keputusan untuk menjadikan sosok dirinya sebagai seorang pria atau seorang wanita. 
Pemikiran dan pengalaman yang Nona Tari dapatkan dari masa kecil hingga dewasa membuatnya harus bergulat hebat dengan dirinya untuk menentukan jati dirinya yang sebenarnya. Nona Tari memilih menjadi seorang wanita karena bagi dirinya dia memang terlahir dengan jiwa seorang wanita hanya saja terjebak dalam tubuh seorang pria. Pada masa dewasa Nona Tari memutuskan hal tersulit dalam hidupnya untuk mengakhiri kodratnya sebagai pria yang diciptakan Tuhan, atau menyenangkan dirinya yang selama ini merasa asing dalam tubuh seorang pria untuk menjadi seorang wanita. Nona Tari memilih mengubah dirinya.
Masalah kegamangan identitas mulai dirasakan oleh tokoh Nona Tari di dalam cerita ini, dia merasa bahwa dirinya yang merupakan sosok pria harus dapat diubah menjadi sosok wanita yang selama ini diharapkannya dari dirinya sendiri. Menjadi sebagai seorang wanita. Hal tersebut tampak dalam kutipan berikut.

“Wanita itu ‘kan cuma pake susu saja, ya untung-untung kalau susunya montok. Lebih-lebih yang saya tahu cuma bukit kecil saja, dok. Jadi perempuan itu gampang kan dok” (Rahardjo, 2011:3).

Nona Tari memilih menjadi seorang wanita dengan melakukan beberapa perubahan pada tubuhnya sendiri. Dalam pikirannya dia bukanlah seorang pria namun dia hanya terjebak dalam tubuh pria. Untuk itu, dia harus mengakhiri kenyataan itu agar sesuai dengan harapan yang digambarkannya selama ini di dalam pikirannya. Hal tersebut tampak dalam data berikut.
 
“Coba turuti perintah saya …” kata dokter saat malam itu, diturutinya dengan penuh patuh, sambil mengingat kata dokter yang cukup menghibur.  “Nanti kalau payudara sudah besar sesuai keinginan dan penggunaan pil hormon esterogen dihentikan, dengan sendirinya alat kelamin utama akan normal kembali, “ujar dokter. (Rahardjo, 2011:20).

Namun, masalah kembali muncul ketika dia menyadari bahwa dia memiliki organ kelamin yang tidak dapat terbantahkan adalah penis. Rasa bersalahnya pun muncul ketika dia temukan bahwa akibat pengoperasian payudaranya, organ kelamin utamanya sudah tidak berfungsi dengan baik. Pemikirannya menjadi seorang wanita kemudian sedikit tergoyahkan dengan rasa cemasnya terhadap kurang berfungsinya kelamin utamanya. Di sini harapannya untuk menyamakan diri dengan kaum wanita menjadi sedikit diragukan.
Nona Tari kemudian menyadari bahwa tujuannya dari dulu adalah menyamai dirinya dengan sosok yang disebut wanita itu. Nona Tari kemudian mencoba menindaklanjuti keinginannya yang besar itu untuk menjadikan dirinya sebagai wanita yang utuh. Dia memilih membentuk organ kelamin wanita di antara kedua pahanya. Hal itu tampak pada data berikut.

Namun setelah sekian lama hidup dengan alat kelamin utama laki-laki dan alat kelamin sekunder perempuan, ia mulai merasa dirinya seperti monster. Tumbuh perasaan tak nyaman. Maka, kini saatnya mewujudkan semua impian. Sudah waktunya dokter menganggap layak keberadaanya sebagai perempuan, dan setuju tindakan operasi kelamin terhadapnya (Rahardjo, 2011: 9).
Pemikirannya yang terstruktur sejak kecil akibat keganjilan pada dirinya membentuk pribadinya menjadi lebih berani untuk melakukan hal tersulit dalam hidupnya. Dia kini sudah memiliki sebuah vagina yang artinya dirinya kini sudah dapat disebut sebagai seorang wanita.


Arena dalam Novel Taman Api
Dalam novel Taman Api, diceritakan bahwa tokoh Nona Tari menemukan wilayah hidup (arena) yang menyenangkan yang menurutnya adalah tempat dirinya tercipta. Arena yang dimaksud adalah kehidupan yang tergolong dalam kelas dominan, kelompok orang bermodal yang membedakan kelasnya dari kelompok yang lain. Hal tersebut tampak pada kutipan berikut.

“Sangat menyenangkan menjadi seorang putri. Itulah aku yang kali ini memakai gaun merah tua. Dalam kerumunan para hadirin di galeri megah bergengsi, ia lintasi para hadirin yang sebagian melihat-lihat lukisan-lukisan yang tergantung di dinding galeri “ (Rahardjo, 2011:13).

Hal tersebut menunjukkan bahwa arena bisnis dalam kelas dominan yang telah menjadi arena kehidupan nona Tari adalah sebuah arena kelas elite. Yang dapat memasuki wilayah ini adalah mereka yang punya modal besar, ditandai dengan pakaian yang mahal buatan luar negeri, asesoris (tas, anting, dll) dengan merek terkenal, mobil dengan lebel kelas atas. 
Arena kehidupan yang dipilih nona Tari mengharuskan ia berlomba, berjuang agar dapat tetap bertahan dan menang dapam arena itu. Karena itu, Nona Tari harus memiliki intelektual sebagai modal (kapital). Nona Tari memiliki hal ini, Dia memiliki intelektual di atas rata-rata yang menurut beberapa orang lebih dari kaum waria yang lainnya. Hal tersebut tampak pada data berikut.

Oke Tari. Aku minta kamu menjadi manajer dalam bisnis yang kupimpin”
“Bisnis dengan Mister Patrick untuk memasok kaum waria ke negeri canggih ya Mas?”
“Tepat, kamu cerdas Tari, namun hanya waria-waria unggulan sajalah yang kita kirimkan karena mereka akan menjadi duta negara kita. Jangan sampai mempermalukan bangsa”
“Kenapa harus aku, Mas?”
“Karena hanya kamulah yang memiliki intelektual yang tinggi di antara teman-teman sesamamu” (Rahardjo, 2011:164).

Tokoh Tari dalam novel Taman Api berupaya menjadi seseorang yang dapat dipandang sebagai seorang wanita bukan lagi sebagi kaum waria. Dia berupaya membentuk kepribadiannya menjadi wanita pintar yang berintelektual sehingga dapat berinteraksi baik dengan wanita-wanita lain dalam kaum dominan, bahkan dengan kepintarannnya Tari menjadi sosok yang dihargai dalam pandangan kaum dominan.
Untuk hidup di wilayah ini, Nona Tari mesti memiliki kondisi ekonomi yang  mapan. Karena dengan modal uang Nona Tari dapat menjadikan dirinya sebagai salah satu anggota dari arena yang diinginkannya ini. Hal itu tampak pada kutipan berikut.

Sedan ungu melintasi jalan-jalan yang nyaris kosong, seakan pengendara sedan adalah pemilik ibu kota yang megah penuh kerlip emas lampu pada malam hitam. ‘Aku beruntung bisa hidup nyaman…’ waria Tari yang di dalam mobil sedan mengatakan pada diri sendiri. Pada malam berlangit biru, sedan ungu itu masuk kehalaman sebuah rumah megah. Begitu Tari si pengendara sedan itu masuk ke rumah tersebut, malam betul-betul menjadi miliknya (Rahardjo, 2011:40―41)

Nona Tari paham betul untuk menjadi seseorang yang terpandang dia harus memiliki uang yang cukup agar dapat mengubah dirinya. Dengan menggunakan barang mahal Nona Tari percaya dia sanggup diterima dalam kaum dominan yang selama ini dianggapnya sebagai kaum berkelas.
Bukan hanya modal uang yang harus Nona Tari penuhi agar dapat menempati wilayah kaum wanita, namun dia harus mampu menjalin kerja sama yang baik (modal jaringan) dengan agen-agen dalam wilayah ini yang menduduki posisi-posisi penting. Hal tersebut dapat dilihat ada kutipan berikut.

“Pembawa acara memulai pembahasan tentang perubahan jenis kelamin bintang waria terkenal, Tari, yang telah menjalani operasi. Tari didampingi oleh beberapa koleganya yang memang terpandang di masyarakat, dia hadirkan dokter Ranto, seorang ahli agama dan Bapak
Lazuardi seorang petinggi polisi” (Rahardjo, 2011: 85)

Nona Tari mengerti bahwa kaum waria dalam pandangan masyarakat luas adalah kelompok masyarakat kelas dua yang kurang terpandang dan kadang tidak dipandang dalam masyarakat.
Untuk itu, dia harus menjalin kerja sama yang baik dengan orangorang kelas atas yaitu kaum dominan. Data berikut ini menunjukkan hal tersebut.

 “Tari, sang empunya pikiran, berjalan berlenggok melintas pada keramaian pesta malam. Dalam kerumunan orang yang hadiri pembukaan galeri lukisan itu, Tari tampak sangat cantik dan menarik (Rahardjo, 2011:13).

Bagi Nona Tari untuk menjadi sama dengan anggota kolektif arena kaum dominan maka dirinya harus banyak berkecimpun dalam acara-acara besar yang berkelas yang dibuat oleh kaum dominan. Karena ketika dia mengikuti acara-acara tersebut dia sudah dapat dikatakan layak untuk bergabung dalam arena tersebut.
Nona Tari menyadari jauh lebih baik dan akan sangat gampang untuk menjadi agen dari kaum wanita dan bahkan diakui sebagai seorang wanita jika dia menikah dengan seorang pria. Itu berarti dia memang sudah layak disebut sebagai wanita. Hal tersebut dapat dilihat pada dialog Tari dan dokter Ranto.

“Sebab aku ingin memilikimu, Tari”
“Kan Mas sudah memilikiku,”
“Maksudku memperisterimu,” 
Tari hanya tersipu malu mendengar ucapan dokter Ranto

 (Rahardjo, 2011:166)

Impian terbesar dalam hidup nona Tari adalah menjadi wanita sempurna, yaitu menikah. Sebab percuma semua hal yang ia perjuangkan jika impiannya tidak tercapai.
Arena dalam Novel Taman Api dapat divisualkan visual sebagai berikut.
 
Gambar 2. Arena dalam Novel Taman Api

Arena bisnis ditempati oleh agen-agen seperti Mr. Patric, Dokter Ranto, Nona Tari. Dalam arena ini agen-agen melaksanakan fungsinya dengan baik agar jaringan yang dibangun tetap bertahan untuk kepentingan bersama. Bisnis yang dijalani oleh ketiga agen ini adalah membawa waria dari negeri tanah air ke negeri canggih untuk mengikuti kontes waria tingkat dunia. Tokoh Tari dipercaya sebagai manager dalam bisnis ini. Ini menunjukkan bahwa tokoh Tari berhasil masuk dalam arena kelas dominan dengan modal intelektual dan modal kekayaan.
Arena yang kedua adalah arena kaum waria. Arena ini ditempati oleh agen Riris, Juli, Yanti dll. Dalam arena ini, para agen tidak mendapat kepastian hukum karena masalah jenis kelamin yang tidak jelas. Dari segi agama, para agen dalam arena ini dianggap sebagai pendosa sehingga mereka selalu dikucilkan bahkan mendapat kekeran fisik dari agen-agen pemerintah (satpol pramong praja). Wujud arena kaum waria adalah tempat tempat kos di wilayah pinggiran, taman-taman kota, rel kereta api, dan pinggiran jalan. Arena kaum waria adalah arena penuh perjuangan, tidak mengenakkan, sebuah arena yang tidak diidam-idamkan oleh siapa pun kecuali mereka yang habitusnya telah dibentuk untuk itu.
Arena yang terakhir adalah arena kedokteran yang ditempati oleh agen dokter Ranto, dokter Sahrul, dan dokter Hendri. Dalam arena ini para agen dihormati karena profesi ini dianggap sebagai malaikat penolong bagi mereka yang ingin melakukan operasi kelamin. Namun demikian, dalam arena ini penuh persaingan antar agen untuk memperoleh pasien. Bahkan para agen melakukan bisnis yang bertentangan dengan etika kedokteran untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya. Hal ini disebabkan oleh habitus para agen bahwa ketenaran dan kehormatan hanya dapat diperoleh dengan mengumpulkan uang dan harta sebanyak-banyaknya.

SIMPULAN  Novel Taman Api menggambarkan bentuk habitus atau cara pandang seseorang dalam menentukan tindakan tokoh. Habitus para tokoh cerita terus bergerak dari waktu ke waktu. Pergerakan itu diakibatkan oleh pengalaman, didikan, atau bahkan pergaulan.
Perubahan dan pergerakan habitus ini berlangsung terusmenerus sehingga dapat menempatkan seseorang menjadi bagian dari sebuah arena. Namun, terkadang perubahan-perubahan habitus ini berlangsung secara tidak rasional sehingga terjadi pemaksaan dan tindakan kekerasan hingga upaya diskriminasi dari beberapa kaum yang secara sengaja dilakukan untuk membuat kaum lain merasa termarjinalkan.
Arena dalam novel Taman Api dibagi tiga. Pertama, arena kedokteran. Dalam arena ini setiap agen dihormati, dianggap orang berkelas. Namun di balik itu semua, penampilan sebagai kelompok dominan tidak mencerminkan akhlak yang baik. Hal ini karena habitus agen-agen ini dikotori oleh keinginan mendapatkan pendapatan yang besar tetapi dengan cara yang tidak benar. Kedua, arena bisnis. Dalam arena ini setiap agen berupaya menjalankan fungsi dengan sebaik-baiknya agar jaringan yang dibangun tetap bertahan untuk kepentingan bersama yaitu saling menguntungkan. Namun demikian, dalam arena ini agen lain dikorbankan yaitu para waria. Ketiga, arena waria. Dalam arena ini, setiap agen dianggap perusak tatanan moralitas, dan sering menjadi sasaran kekerasan penguasa yang disimbolkan oleh petugas Satpol Pamong Praja. Habitus penguasa telah terbentuk dengan sebuah stigma bahwa kaum waria adalah penyebab rusaknya moral bangsa, waria adalah sumber penyebaran HIV AIDS sehingga harus dimusnahkan.
      


DAFTAR PUSTAKA
Bourdieu, Pierre. 2015 (cetakan ketiga). Pierre Bourdieu. Arena Produksi Kultural Sebuah Kajian Sosiologi Budaya       (Diterjemahkan          oleh Yudi        Santoso)             Bantul: 
Kreasi Wacana.
Creswell, John W. 2014. Penelitian Kualitatif   dan      Desain             Riset. Memilih          di         antara lima pendekatan. (alih bahasa oleh
Ahmad     Lintang Lazuardi).Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Fashri, Fauzi. 2014. Pierre Boudieu. Menyingkap         Kuasa Simbol.
Yogyakarta: Jalasutra.

Moleong, Lexy J. 2008. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT.Remaja Rosdakarya.
Nurgiyantoro,      Burhan.           2010.   Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah  Mada University Press
Rahardjo, Yonathan. 2011. Taman Api. Jakarta: Pustaka Alvabet.
Wattimena, Reza A.A. 2012. Berpikir Kritis bersama Pierre Bourdieu. http://rumahfilsafat.com/2012/04/ 14/sosiologi-kritis-dan-sosiologireflektif-pemikiran-pierrebourdieu/ Diakses tanggal 19 September 2015.  

Sandra Cattelya: Taman Api tells a rare issue in Indonesian fiction literature


Rahardjo, Yonathan. 2011. Taman Api. Jakarta: Pustaka Alvabet.
Rating 2,5 stars
Thank you, Pustaka Alvabet, for giving me this book in exchange for honest review.
Taman Api
We live in a world where being normal is to be attracted toward opposite sex. So, generally any human being who is attracted toward the same sex, known as gay, is considered as abnormal. ‘Normal’ is a situation that is usual compared to most others. In that case, those who are attracted to the same sex are unusual and considered as abnormal. But, what if the normal situation is the contrary from what happened now. What if being normal is when people attracted to the same sex, and those who are attracted to the opposite sex are forced to ‘repent’ and must to be attracted to the same sex. Well? Kind of nauseating, isn’t it? Perhaps that’s what gay people feel all this long. Moreover, how does it feel for those who choose the ‘rougher’ path by becoming gender benders or transsexuals? What are their stories?

Taman Api tells a rare issue in Indonesian fiction literature. It talks about the transsexual life style. Transsexual in Indonesia is far different from Thailand’s. Indonesian transsexual doesn’t have place in community and they are not national’s revenue sources like in Thailand. What happened? You might get some slight insight of Indonesian transsexual by reading this novel. Though, Taman Api’s set of place is not in Indonesia but in a state called Tanah Air (‘mother country’).

It’s not very easy to enjoy this novel because 1) the loose characterization, 2) vague story plot, 3) many lines are too long and complicated, 4) plus, the using of too many hyperbole and personification really doesn’t help. BUT, if you can ignore all of those downsides, this novel will take you drown in its world of bitterness. Yonathan Rahardjo seems had done great with his research before he writes down this novel. As a veterinarian, Rahardjo succeed to brings out the world he doesn’t associate with in real life (or, he does associate with transsexual life style, because who knows, right?). By reading Taman Api, reader will know information about HIV/AIDS, sillicon injection, sex surgical operation procedure, and many more. Rahardjo also, like out of the blue, shows his imagination about a chip that is planted in selected transsexuals to locate them, like a transmitter maybe, and to somehow calculate the HIV/AIDS contagious rate. But whatever, the most essential part of this novel is the elaboration on internal conflicts of the characters, especially Tari’s and Priyatna’s.

Tari is a celebrity transsexual with intelligence and boldness. She (actually ‘he’) is wholeheartedly eager to become entirely woman and in order to do so, she braves herself up to do a surgery to exchange her sex. She is willing to cut off her penis and replace it with a ‘handmade’ vagina. Meanwhile, Priyatna is an average medical representative. His job is to offer medical stuff to doctors and patients. Uniqely, Priyatna feels turn on sexually if he sees or even wears woman clothing. Then, he gives a try to become a gender bender in the night as Yanti. Conlicts! The conflicts not only risen from internal, but also from external like from the citizen, mass media, police, and religious communities, and most of them are careless, reckless, and violent.

However, Taman Api is a work of fiction and what reader gets from reading this novel should be wisely thought. Although I personally rate it as a 2,5 stars book, I do wish more people to read Taman Api, so more people perhaps could change their perception, like I did. My high school is acrossed from Taman Lalu Lintas (‘Traffic Park’ or also named Ade Irma Suyani Nasution Park). In night time, this park used to be an area where transsexuals offer whatever they are offering. They scattered surround the park, stood tall and pride with their thick make up. I used to go home late several times, from school or from friend’s place near school. To get home, I must walk passing them. And you can say, I was scared to death. I better walked far around than to pass them, if no one was able to accompany me.


Why did I scared? Because I (very wrongly) thought they are abnormal people and they would harm any normal people who get near them. As I got older, I realized that they are just as normal as me! And of course, they have feelings too. I am not scared of them anymore. But, after reading Taman Api, I really want to have a transsexual as a friend. I really wish you guys (transsexuals) blessed with happiness and freedom in this life. Stay strong, Girls! Cheers. Let's cyber-hug.