MEMAHAMI WARIA DENGAN CINTA

MEMAHAMI WARIA DENGAN CINTA
Dra. DWI SUPARTI

(Disampaikan pada Bedah Buku "Taman Api" karya Yonathan Rahardjo)

Simpang Lima Gumul, Minggu 25 September 2011

Membaca novel "Taman Api" karya Yonathan Rahardjo, kita seperti dibawa dalam realis kehidupan waria atau para bencong dengan segala proses, stigma, atribut, lika-liku, riang gembira serta derai air mata. Kehidupan mereka yang tertutup dan khas dibongkar sedemikian lkugas. Intrik-intrik yang dibangun pengarang membuka mata kita bahwa stigma negatif yang sering ditimpakan kepada mereka hanya akan membuat mereka tambah terpuruk.

Siapa sih yang ingin jadi waria? Pertanyaan ini kalau normal diajukankepada siapapun pasti kita dapat dengan mudah mengetahui jawabannya.

Waria, wadham, banci atau bencong bagi banyak orang merupakan bentuk kehidupan anak manusia yang cukup aneh. Secara fisik mereka adalah laki-laki normal, memiliki kelamin yang normal, namun secara psikis mereka merasa dirinya perempuan, tidak ubahnya perempuan lainnya. (Koeswinarno, 2004:1)

Akibat yang ditimbulkan bisa langsung ditebak. Kehidupan perilaku mereka sehari-hari tampak kaku, secara fisik mereka laki-laki tetapi cara berjalan, berbicara dan dandanan mereka mirip perempuan. Dengan kata lain jiwa mereka terperangkap pada tubuh yang salah. Lelaki sejati bukan tapi perempuan tulen pun tidak. Tentu ini menjadi hal yang sangat sulit bagi mereka. Padahal dalam tataran sosiokultural serta dogma manapun jenis kelamin yang ada hanya laki-laki dan perempuan. Tidak ada jenis kelamin ketiga atau
jenis kelamin antara. 

“Sikap banci jelas sangat meresahkan, seperti halnya keberadaan banci itu sendiri. Padahal, menurut agama, awalnya manusia diciptakan Tuhan hanya sebagai laki-laki atau perempuan, dan hukum agama hanya memberi dan minta ketegasan pilihan bagi manusia hanya menjadi pria atau wanita saja. Bukan menjadi banci! Tidak ada pilihan tengah! Agama tak menolerir kegamangan identitas gender, lantaran akan merusak tatanan alam dengan mendorong hubungan seks sejenis yang merusak sistem sosial, sistem hukum, menyebarkan berbagai penyakit menular dan sebagainya.” (Yonathan Rahardjo, 2011:23)

Menjadi waria sebenarnya bukanlah terjadi mendadak dan tiba-tiba. Membutuhkan proses yang sangat panjang dan berliku. Penuh tekanan dan kebingungan. Sebagai sebuah kepribadian, kehadiran seorang waria merupakan satu proses yang panjang, baik secara individual meupun sosial. Secara individu,lahirnya perilaku waria tidak lepas dari satu proses atau dorongan yang kuat dari dalam dirinya, bahwa fisik mereka tidak sesuai dengan kondisi psikis. Tentu ini menimbulkan onflik psikologis dalam dirinya.

Presentasi perilaku yang jauh dari laki-laki normal tetapi juga bukan perempuan normal. Belum semua anggota masyarakat termasuk keluarga mereka sendiri dapat menerima dengan wajar kehidupan waria. Kehadiran waria lebih dianggap aib. Dalam pergaulan sosial pun waria senantiasa mengalami konflik-konflik dalam berbagai bentuk, cemoohan, pelecehan maupun pengucilan. Perlakuan kebijakan, sosiokultur sangat jauh dari unsur manusiawi. Razia dengan segala bentuk kekerasan yang diterima membuat mata kita terbuka lebar-lebar dengan dunia waria. Pemahaman kita yang sempit ikut memperburuk keadaan para waria.

Konflik-konflik tersebut justru menyebabkan dunia waria semakin terisolir dari lingkungan sosial. Semantara waria dituntut harus mampu survive dalam lingkungan yang mengisolirnya. Tekanan-tekanan yang kuat yang memunculkan stereotif negatif tersebut yang banyak membuat waria justru lari dari rumah dan lingkungan sosialnya. Dengan kehidupan barunya beserta stereotif yang melekat tentu tidak mudah menjalaninya. Meskipun pada akhirnya para waria menemukan subkulturnya: bahasa, gaya hidup, dan solidaritas.

Dalam novelnya, Yonathan Rahardjo juga mengungkapkan realitas seputar kehidupan waria, solidaritasnya, relasi seksualnya, haru biru permak tubuh melalui silikon serta tajamnya pisau bedah operasi kelamin, penyebaran HIV/AIDS.Juga intrik bisnis yang melingkupi dunia mereka.

Sastrawan dilahirkan, dibesarkan, dipengaruhui dan digelisahkan oleh dinamika dan berbagai benturan yang terjadi di tengah kehidupan sosial-budaya masyarakatnya. (Maman S Mahayana, 2007:1). Yonathan Rahardjo, sastrawan yang dokter hewan ini, berhasil meramu imaji antara dunia waria dengan dunia medis yang berkaitan dengan dunianya. Orang awam yang membaca novel ini, akan terhenyak dengan satu sisi realita kehidupan waria. Stigma negatif yang mereka terima sebaiknya justru harus memotivasi waria untuk lebih menonjolkan kelebihannya. Banyak contoh waria yang mampu menunjukkan eksistensinya dengan prestasi. Orang lebih menghargai karya nyata tanpa Memandang siapa dia.

Memaknai kehidupan waria tentunya harus dengan ketulusan hati. Mereka juga makhluk Tuhan. Mereka diciptakan tentu selalu ada tujuan tertentu. Konflik-konflik yang luar biasa serta tekanan-tekanan yang didapatkan sebagai proses pencarian diri, mestinya tetap tidak meninggalkan hakikat waria sebagai makhluk Tuhan. Proses yang panjang mestinya semakin menguatkan  keimanan kepada Sang Pencipta. Kekhasan waria menjadi bukti juga bahwa Tuhan Maha Kuasa.

Lingkungan keluarga mestinya pihak pertama yang meneguhkan hati. Dengan keikhlasan menerima ciptaanNya, tentu semakin mudah bagi waria untuk memudahkan proses panjang pembentukan kepribadian. Dengan kekuatan doa dan cinta kasih dari orang-orang terdekatnya, Insya Allah akan datang hidayahNya. Pilihan menjadi  laki-laki atau perempuan kembali kepada waria, karena mereka yang menjalaninya.

Akhirnya...,
Kekuatan cinta dan kasih sayang yang tulus serta keikhlasan untuk menerima waria-lah yang akan menentun mereka mendapatkan kekuatan untuk menjalani kehidupannya. AMIN.

"MANUSIA AKAN MENJADI MANUSIA KALAU DIA MENYADARI BAHWA DIA MANUSIA" dwis11

No comments: