Taufiq Ismail F: Skripsi S1 Kajian Sosiologi dan Psikologi Sastra Novel Taman Api



POTRET KEHIDUPAN WARIA DALAM NOVEL TAMAN API  KARYA YONATHAN RAHARDJO
(KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA DAN PSIKOLOGI SASTRA)
Dapat Nilai A

Taufiq Ismail Fitrahani
Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni
IKIP PGRI Madiun
2012

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Setelah mengkaji secara komprehensif novel “Taman Api karya Yonathan Rahardjo, penelitian dapat menarik kesimpulan sebagai berikut.

1. Salah satu aspek dalam diri manusia yang sangat penting adalah peran jenis kelamin. Setiap individu diharapkan dapat memahami peran sesuai dengan jenis kelaminnya. Keberhasilan individu dalam pembentukan identitas jenis kelamin ditentukan oleh berhasil atau tidaknya individu tersebut dalam menerima dan memahami perilaku sesuai dengan peran jenis kelaminnya. Jika individu gagal dalam menerima dan memahami peran jenis kelaminnya maka individu tersebut akan mengalami konflik atau gangguan identitas jenis kelamin. Konflik batin yang dialami tokoh utama dalam novel “Taman Api” karya Yonathan Rahardjo sangat beragam. Awal mula terjadi konflik, masih merupakan konflik yang sedang. Ada kalanya konflik itu menurun secara drastis. Ada pula konflik batin yang dialami tokoh utama naik ke level paling atas. Konflik batin dalam novel tersebut, ditulis dengan jelas oleh pengarangnya. Pembaca dengan mudah apa dan bagaimana konflik batin tokoh tersebut. Tokoh utama dalam novel tersebut juga mengalami banyak konflik dengan sebagian tokoh dalam novel.

2. Potret kehidupan waria dalam novel “Taman Api” karya Yonathan Rahardjo, waria mendapat kecaman yang sangat keras oleh masyarakat atau lingkungan sosial. Waria diberlakukan seolah-olah mereka adalah hewan. Waria dijadikan kelinci percobaan oleh oknum-oknum tertentu untuk kepentingan pribadi. Mereka juga diberlakukan tidak adil sehingga mereka merasa dikucilkan oleh lingkungan sosial. Dalam kehidupan mereka sangatlah banyak konspirasi rahasia yang dilakukan oleh para pihak berkuasa yang sangat merugikan para waria. Orang-orang seperti itulah sebernarnya yang menjadi “sampah masyarakat”, bukanlah malah sebaliknya, waria yang dijadikan sampah masyarakat. Mereka juga punya kehidupan, dan mereka juga mempunyai hak yang sama dengan masyarakat yang lainnya. Seakan-akan warialah yang menjadi sampah dalam masyarakat atau ruang sosial lain. Mereka memberi warna yang lain ketika mereka hidup berdampingan dengan kelompok sosial yang sering mengucilkan mereka. Para waria hanya menjalani hidup sebagaimana keinginan dan harapan mereka. Andai bisa memilih, mereka akan memilih mati dari pada mereka harus ditangkap dan diberlakukan seperti binatang oleh oknum-oknum tertentu. Masyarakat tidak membuka kesempatan pendidikan, kehidupan yang layak dan pekerjaan bagi waria. Namun, di sisi lain seiring dengan menjamurnya prostitusi waria, pandangan masyarakat yang sering ditujukan pada waria adalah bahwa waria identik dengan prostitusi. Ironisnya, pada saat yang lain diam-diam masyarakat juga berminat pada jasa pelayanan waria. Dunia pelacuran dalam kehidupan waria bukan hanya berperan untuk memenuhi kepentingan ekonomi semata, akan tetapi juga merupakan media yang sangat berperan dalam menegaskan jati diri untuk tampil menjadi waria. Karena itulah, dalam lingkungan pelacuran kehadiran waria diterima dalam dunia yang utuh selain juga sebagai media sosialisasi, membangun solidaritas sosial waria.

No comments: